Dari Kampus untuk Budaya: Pelatihan Aksara Incung Satukan Lintas Generasi

Dari Kampus untuk Budaya: Pelatihan Aksara Incung Satukan Lintas Generasi

SUNGAI PENUH – Komunitas OHARA (Oase Hikmah Aksara) di bawah naungan Perpustakaan IAIN Kerinci menggelar Pelatihan Baca-Tulis Aksara Incung yang diikuti lebih dari 35 peserta lintas generasi, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga guru. Kegiatan yang berlangsung dalam dua sesi pada Sabtu (6/9) dan Kamis (11/9) di Gedung SBSN  Perpustakaan Digital IAIN Kerinci ini menjadi langkah nyata dalam upaya pelestarian aksara tradisional Kerinci.

Pada sesi pertama, sekitar 25 mahasiswa diperkenalkan pada dasar-dasar Aksara Incung, meliputi sejarah, struktur huruf, serta praktik baca-tulis. Sesi kedua diikuti 11 peserta dari kalangan akademisi dan pendidik, di antaranya Ketua Senat IAIN Kerinci Prof. Dr. H. Asa’ari, Anggota Senat Prof. Dr. Muhammad Yusuf, serta guru dari SMP Negeri 7 Kerinci dan SD 030 Koto Dian.

Pelatihan berlangsung interaktif. Mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi saat mencoba menyalin huruf Incung, sedangkan para dosen dan guru menekankan perlunya integrasi aksara tradisional ini dalam kurikulum pendidikan.

Perwakilan Komunitas OHARA menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi.Perwakilan Komunitas OHARA menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas terselenggaranya kegiatan. Menurutnya, pelatihan ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian Aksara Incung dapat berjalan melalui kerja sama lintas generasi dan lembaga.

“Alhamdulillah, pelatihan Aksara Incung kali ini terlaksana dengan baik dan diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan. Kami berterima kasih kepada Ketua Senat Prof. Dr. KH. Asa’ari yang telah berkenan hadir, serta kepada Anggota Senat Prof. Dr. Muhammad Yusuf yang meskipun bukan asli Kerinci tetap menunjukkan kepedulian besar terhadap pelestarian warisan berharga ini,” ujarnya.

Aksara Incung adalah aksara tradisional masyarakat Kerinci, Jambi, yang diperkirakan berkembang sejak abad ke-13 Masehi. Jejaknya banyak ditemukan dalam naskah hukum adat, sastra, hingga dokumen perjanjian tradisional. Namun, seiring dominasi huruf Latin, penggunaannya kian menurun sehingga kini hanya dikuasai sebagian kecil masyarakat adat dan peneliti.

Dalam perspektif akademis, pelestarian aksara ini tidak hanya bernilai historis, tetapi juga menjadi upaya menjaga identitas kolektif masyarakat Kerinci. Menghidupkan kembali Incung berarti melestarikan pengetahuan lokal, memperkaya khasanah literasi Nusantara, sekaligus memperkuat daya saing budaya di era globalisasi.

Rektor IAIN Kerinci, Dr. Jafar Ahmad, M.Si., turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa upaya pelestarian Aksara Incung sejalan dengan visi perguruan tinggi dalam mengembangkan literasi berbasis kearifan lokal.

“IAIN Kerinci berkomitmen untuk menjadikan perpustakaan dan komunitas akademik sebagai pusat penguatan identitas budaya. Aksara Incung bukan sekadar warisan sejarah, tetapi juga aset intelektual yang dapat memperkaya ilmu pengetahuan serta memperkuat karakter bangsa,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, IAIN Kerinci merencanakan program riset, digitalisasi naskah, serta integrasi literasi lokal ke dalam kurikulum. Strategi ini diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap warisan aksara tradisional dan menghidupkannya kembali dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan pelatihan ini menjadi momentum penting bagi akademisi, mahasiswa, dan pendidik untuk membangun sinergi dalam merawat aksara tradisional. Dukungan perguruan tinggi, komunitas, dan sekolah diyakini mampu menjadikan Aksara Incung bukan hanya bahan kajian sejarah, melainkan bagian hidup dari budaya masyarakat Kerinci.

Melalui langkah berkelanjutan ini, IAIN Kerinci bersama Komunitas OHARA menegaskan komitmennya menjaga Aksara Incung sebagai sumber literasi lokal, penguat identitas budaya, sekaligus kontribusi nyata Kerinci bagi khazanah peradaban Nusantara.