Oleh: Ahmad Inung
Dua peristiwa penaklukan kota; serangan mematikan Troya di Yunani, dan pembebasan Makkah tanpa meninggalkan tragedi kemanusiaan yang membinasakan (Ilustrasi: Arina.id).
Sudah nonton Odyssey? Saya menonton film yang dibintangi Matt Damon dan Anne Hathaway ini bersama istri. Pilihan hang out bersama "mantan pacar" yang, saya kira, cukup bermakna sekalipun kurang romantis.
Sepanjang pemutaran film yang durasinya hampir tiga jam, pikiran saya melayang pada kisah Fathu Makkah (Penaklukan Makkah) yang langsung dipimpin Nabi Muhammad. Ah, andai pembebasan kota suci ini diangkat ke layar lebar dengan kemegahan ala film-film Hollywood, kita akan mendapat pelajaran bagaimana sebuah penaklukan berubah menjadi teladan keadaban yang tak terkira.
Sejarah mencatat bahwa sebuah pertempuran tidak hanya dimenangkan oleh seberapa tajam pedang dikibaskan, tetapi oleh bagaimana jiwa para pemenangnya diperlihatkan. Dalam narasi peradaban manusia, dua peristiwa besar, Penaklukan Troya dan Fathu Makkah, menjadi cermin kontras tentang arti sejati dari sebuah kemenangan. Keduanya mengukir sejarah besar, namun meninggalkan jejak kemanusiaan yang bertolak belakang.
Tragedi Troya
Bagi pencinta sinema, visualisasi penderitaan Kota Troya terekam jelas dalam layar lebar Troy (2004) karya Wolfgang Petersen hingga diadopsi sinematik The Odyssey (2026). Sinema-sinema ini berhasil menangkap atmosfer kemegahan sebuah peradaban yang runtuh karena keandalan taktik yang dikemas dalam bungkus kepalsuan: Kuda Troya.
Di atas kehancuran Troya, Odysseus dipuja sebagai jenderal perang jenius. Dia dipuja sebagai sosok yang memiliki kecerdikan luar biasa. Setelah sepuluh tahun perang yang melelahkan dan stagnan di luar benteng Troya, Odysseus merancang strategi yang kemudian mengubah jalan sejarah. Untuk bisa memasuki gerbang Kota Troya yang selama sepuluh tahun seperti benteng yang dijaga para malaikat dari neraka, Odysseus mengusulkan untuk membuat patung kuda raksasa, yang perutnya diisi prajurit-prajurit terbaik Yunani di dalamnya, dan disajikan sebagai "hadiah perpisahan" dan tanda pengakuan kekalahan Yunani.
Warga Troya, yang mempercayai bahwa perang telah usai, membawa patung itu masuk melintasi gerbang utama mereka. Namun, di balik patung itu, tersimpan kumpulan pasukan elit yang akan menghadirkan tragedi kemanusiaan yang kelam.
Ketika malam tiba, di saat warga Troya tertidur lelap setelah merayakan berakhirnya perang, para prajurit Yunani keluar dari perut kuda dan membuka gerbang kota agar bisa dimasuki pasukan yang bersembunyi di laut. Yang terjadi berikutnya bukanlah penaklukan yang beradab, melainkan pembantaian massal tanpa pandang bulu, pembakaran rumah-rumah penduduk, dan penjarahan harta benda kota. Wanita, anak-anak, dan kaum tua diseret keluar dari tempat perlindungan. Pangeran muda seperti Astyanax dilempar dari dinding kota, sementara para putri Troya dijadikan budak pemuas nafsu dan pekerja paksa.
Secara kultural dan spiritual, tindakan Odysseus dan pasukan Yunani ini melanggar Xenia, hukum Zeus yang mengatur urusan moral tertinggi. Hukum ini mengikat masyarakat Yunani Kuno untuk menjunjung tinggi penghormatan terhadap janji damai, tamu, serta perlindungan terhadap pihak yang sudah menyerah. Penaklukan Troya adalah kemenangan dari sebuah perang yang menanggalkan seluruh nilai keadaban.
Fathu Makkah: Kemenangan Tanpa Darah
Berjarak ribuan kilometer dan berabad-abad setelah tragedi Troya, sejarah menyaksikan peristiwa penaklukan lain yang bertolak belakang di padang pasir Arabia: Fathu Makkah (630 M).
Secara militer, pasukan Muslim yang dipimpin oleh Nabi Muhammad memasuki Makkah dengan kekuatan 10.000 prajurit, jumlah terbesar yang belum pernah disaksikan di Arabia saat itu. Kota Makkah sepenuhnya berada dalam posisi lumpuh, terisolasi, dan tidak memiliki kekuatan untuk bertahan. Secara kalkulasi tempur, pasukan ini sanggup meratakan Mekkah dalam sekejap sebagai balasan atas penindasan, pengusiran, penyitaan harta, dan pembunuhan keluarga kaum Muslim selama lebih dari dua dekade.
Namun, strategi yang dirancang oleh Nabi Muhammad bukanlah strategi penumpasan, melainkan strategi kelumpuhan militer tanpa kekerasan (bloodless victory). Nabi Muhammad membagi pasukan menjadi empat pilar yang masuk dari empat penjuru kota secara bersamaan. Tujuannya adalah menutup setiap celah perlawanan tanpa perlu memicu pertempuran terbuka.
Sebelum kaki melangkahkan ke dalam kota, sebuah maklumat keadaban yang revolusioner diumumkan kepada seluruh warga Makkah. Isinya; Barangsiapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, tokoh legendaris Makkah, maka ia aman. Selain itu, siapa pun yang mengunci pintunya sendiri, maka ia terjamin keselematannya. Seruan berikutnya, barangsiapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram, maka ia aman.
Maklumat ini secara tegas melarang penyerangan terhadap non-kombatan: orang tua, wanita, anak-anak, dan siapa pun yang menanggalkan senjatanya.
Komitmen ini begitu kuat. Saat Nabi Muhammad bersama pasukannya memasuki Makkah, tidak ada penjarahan, tidak ada tarian kemenangan yang menyoraki pihak yang kalah, dan tidak ada pembakaran kota. Pemimpin tertinggi pasukan itu memasuki kota kelahirannya bukan dengan dada menepuk sombong, melainkan dengan menundukkan kepala di atas untanya, hingga janggut beliau hampir menyentuh pelana, sebuah lambang dari rasa syukur dan kerendahan hati yang tiada tandingnya.
Di saat Rasulullah memiliki kuasa penuh untuk membalaskan dendam atas masa lalu yang kelam, kalimat yang keluar di hadapan penduduk Makkah yang gemetar justru adalah pengampunan umum: "Hari ini tidak ada celaan atas kalian. Pergilah, kalian semua bebas.
" *** "
Merefleksikan dua peristiwa penaklukan itu, nurani kita akan terusik. Kemanusiaan kita akhirnya menyadari bahwa apa yang disebut sebagai kemenangan sejati tidak diukur dari seberapa banyak musuh yang berhasil dibinasakan, melainkan dari seberapa banyak kemanusiaan yang berhasil diselamatkan.
Jika penaklukan Troya sebagaimana digambarkan dalam Troy dan The Odyssey mengajarkan kita betapa tipu daya dan amarah bisa mengubah kemenangan menjadi kehancuran moral, maka Fathu Makkah memberi pelajaran abadi sepanjang zaman: bahwa kekuatan tertinggi seorang pemenang terletak pada kesanggupannya untuk mengendalikan diri, mengampuni, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban.
Odysseus mendapatkan kemenangannya lewat kepalsuan yang menumpahkan darah, sementara Nabi Muhammad meraih kemenangan hakiki lewat ketulusan yang menundukkan hati.
Powered by GliaStudios Ahmad Inung Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Kemenag RI
Editor: Muhammad Zunus
Sumber: https://www.arina.id/perspektif/ar-yn9xe/antara-troya-dan-makkah
- Log in to post comments
