Jakarta - Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Amin Suyitno, mengungkapkan kabar menggembirakan: sebanyak 82 penyandang disabilitas mendaftar ke Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) pada tahun ini.
“Ini sinyal kuat bahwa PTKIN makin ramah terhadap semua kalangan. Kita sedang menyaksikan wajah baru pendidikan Islam—yang inklusif, terbuka, dan peduli terhadap keadilan akses,” ujar Prof. Suyitno.
Yang menarik, capaian ini terjadi di tengah ketidakstabilan ekonomi global. Meskipun berbagai tantangan sosial-ekonomi masih melingkupi masyarakat, minat terhadap PTKIN justru tetap tinggi. Bagi Prof. Suyitno, ini menunjukkan tingkat kepercayaan publik yang terus tumbuh terhadap kualitas dan relevansi pendidikan tinggi Islam.
“Di tengah badai ekonomi, PTKIN tetap menjadi tempat berlabuh harapan. Ini patut kita syukuri dan terus kita rawat,” tambahnya.
Apresiasi juga datang dari Rektor IAIN Kerinci, Dr. Jafar Ahmad, S.Ag., M.Si. Ia menyebut bahwa pendaftar disabilitas tidak sekadar angka, tapi wujud hadirnya keberpihakan dalam sistem pendidikan.
“Ini bukti bahwa kampus kita makin terbuka. IAIN Kerinci sendiri terus memperkuat layanan bagi mahasiswa disabilitas agar semua bisa belajar dengan nyaman dan bermartabat,” ujar Dr. Jafar.
Menurut keduanya, kampus keagamaan tidak cukup hanya unggul dalam akademik. Ia juga harus menjadi ruang yang merangkul semua, membangun empati, dan menjadi garda depan keadilan sosial.
“Pendidikan Islam harus hadir sebagai pelita, bukan pagar. Terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar, tumbuh, dan berkontribusi bagi bangsa,” pungkas Prof. Suyitno.
- Log in to post comments
