Prof. Nasaruddin Umar: Cinta Lingkungan Adalah Ibadah

Prof. Nasaruddin Umar: Cinta Lingkungan Adalah Ibadah

JAKARATA, IAIN Kerinci - Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menegaskan bahwa mencintai lingkungan merupakan bagian penting dari ajaran agama. Hal itu disampaikan dalam Seminar Nasional “Agama dan Keberlanjutan Bumi” yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin, (3/11).

Prof. Nasaruddin menjelaskan bahwa agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga hubungan manusia dengan alam. Ia menilai, kepedulian terhadap lingkungan adalah bentuk ibadah yang menunjukkan kedalaman spiritual seseorang.

“Cinta lingkungan adalah bentuk ibadah. Merusak alam sama halnya dengan mengkhianati amanah Tuhan,” ujarnya di hadapan peserta seminar yang terdiri atas tokoh agama, akademisi, dan aktivis lingkungan.

Menurutnya, ajaran tentang pelestarian lingkungan telah lama tertanam dalam nilai-nilai agama. Dalam Islam, manusia memiliki peran sebagai khalifah fil ardh atau pemimpin di bumi yang bertanggung jawab menjaga kelestarian alam.

“Kalimat la tufsidu fil ardh - janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi adalah pesan ekologis yang kuat,” kata Prof. Nasaruddin.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa berbagai persoalan lingkungan seperti krisis iklim, polusi, dan deforestasi bukan hanya masalah ekologis, tetapi juga masalah moral. Karena itu, kesadaran spiritual terhadap alam harus menjadi bagian dari pendidikan dan kehidupan beragama.

“Ketika manusia tamak dan lupa bersyukur, keseimbangan alam terganggu. Karena itu, spiritualitas ekologis harus ditanamkan sejak dini,” tuturnya.

Prof. Nasaruddin juga menegaskan bahwa setiap orang beragama wajib mencintai alam sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak boleh merasa lebih tinggi dari makhluk hidup lain, melainkan harus hidup selaras dengan ciptaan Tuhan lainnya.

“Untuk memahami bagaimana alam bekerja, manusia harus menempatkan dirinya sama seperti makhluk hidup lainnya. Dengan demikian, keselarasan antara agama dan alam akan terwujud,” ungkapnya.

Gagasan tersebut juga tertuang dalam tulisannya berjudul “Ekoteologi”, di mana ia menjelaskan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam secara spiritual. Dalam karyanya itu, Prof. Nasaruddin menekankan bahwa cinta lingkungan bukan sekadar tindakan sosial, tetapi manifestasi keimanan yang mendalam.

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci, Dr. Jafar Ahmad, S.Ag., M.Si., yang turut hadir dalam acara tersebut, menyambut baik gagasan ekoteologi yang disampaikan Prof. Nasaruddin. Ia menilai bahwa pandangan itu sejalan dengan misi pendidikan Islam yang menumbuhkan kesadaran moral dan ekologis.

“Apa yang disampaikan Prof. Nasaruddin menjadi pengingat bahwa nilai-nilai agama dapat membentuk kesadaran ekologis umat. Pendidikan agama harus mendorong kepedulian terhadap bumi,” ujar Dr. Jafar Ahmad.

Ia menambahkan bahwa IAIN Kerinci berkomitmen mengintegrasikan pendidikan lingkungan dalam kurikulum keislaman untuk membentuk generasi yang religius dan bertanggung jawab terhadap alam.

“Gerakan cinta lingkungan harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Ketika agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring, perubahan besar akan terjadi,” tegasnya.

Acara tersebut juga dihadiri oleh perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta berbagai organisasi masyarakat sipil. Menutup seminar, Prof. Nasaruddin menekankan bahwa upaya menyelamatkan bumi tidak bisa dipisahkan dari nilai spiritual dan moral keagamaan.

“Agama mengajarkan keseimbangan. Maka, mencintai lingkungan berarti menjalankan ajaran agama dengan seutuhnya,” pungkasnya.

Riki - PUSAT MEDIA DAN PROMOSI ©2025 IAIN Kerinci